Bara
Bara
Surat Terakhir Seorang Pengelana
Novel Bara, karya febrialdi R.
Mengisahkan seorang lelaki muda namanya Bara, sejak kecil Bara sudah memang terbiasa sendiri tanpa mengenal kasih sayang orang tuanya ia tinggal bersama neneknya di Indramayu. Orang tuanya yang menjadi pelacur atau pengedar narkoba yang sibuk mengurusi dunianya sendiri menjadikan Bara seorang yang liar, keras, dan bebas. Saat SMA neneknya sakit sakit an dan Bara lah yang mengurus semua biaya berobat Neneknya itu, hingga barang barang dirumah hampir semua dijual karena untuk biaya neneknya yang tak kunjung sembuh, tetap saja biaya itu kurang. lalu Bara mengambil keputusan untuk menjual rumah Neneknya untuk melunasi biaya berobat Neneknya. Tapi, setelah itu Neneknya malah meninggal. Bara sangat terpukul karena Neneknya lah yang menghidupinya, bukan orang tuanya. Sejak itu Bara tidak memiliki siapa siapa lagi Neneknya sudah tiada. Bapaknya dipenjara. Ibunya entah dimana. Dengan sisa uang penjualan rumahnya Bara memutuskan untuk pergi ke Bandung mengikuti sahabat kecilnya. Pada awalnya Bara yang tinggal bersama keluarga Wilis sahabatnya yang sudah dianggap anggota keluarga mereka. Malah Bara memutuskan untuk ngekos dan ingin hidup mandiri.
Kirana adalah nama gadis yang melekat pada hati Bara, di suatu kafe kirana dan bara asyik bercanda seperti wajarnya sepasang kekasih, Kirana menginginkan Bara untuk ikut dia ke Cianjur tapi Bara sudah ada agenda dengan temannya mendaki Gunung Gede yang sudah dulu direncanakan sejak lama. Dalam pendakian pun Bara serasa tak bisa menikmati ia kebanyakan melamun dan juga bermimpi Kirana kekasihnya. Angkot beserta temannya mengantar Bara pergi ke rumah Kirana, namun rumah kirana tidak seperti biasanya ramai juga ayat ayat suci dilantunkan. Bara tidak percaya bahwa Kirana meninggal karena mobil yang Kirana tumpangi itu menabrak truk semen. itu yang dikatakan mbak Lies kakak Kirana, setelah meninggalnya Kirana hidup Bara berantakan ia merasa bersalah, andai ia ikut Kirana pergi ke Cianjur Kirana tak bakal meninggal. Bara seringsekali mabuk mabukkan dan memakan pil setan, sering juga ia berantam dengan temannya karena temannya yang mencoba membuat Bara lebih baik malah Bara menganggap temannya itu mengurusi hidupnya.
Setelah banyak usaha untuk menjadikan lebih baik Wilis sahabat kecil Bara akhirnya menyadarkan Bara untuk belajar dari masa lalu dan meneruskan masa depan. Tak lama kemudian Bara merasakan cinta nya tumbuh lagi kepada Inoy teman satu kosnya. Kedekatannya menjadi sangat dekat saat hari hari mereka lalui semakin erat saja. Pada hari ulang tahun Inoy didatangi musibah perut nya tersayat akibat ulah dari Soni. Soni yang mempunyai dendam terhadap Bara tapi mmelampiaskannya pada Inoy. Dan lagi seorang yang ia cintai meninggal karena tusukan yang dilakukan Soni, lagi lagi Bara merasa bersalah hidupnya makin tak tentu arah. hinga akhirnya Bara memutuskan untuk bertualang dalam waktu tak terbatas. sudah berminggu mingu berbulan bulan melakukan perjalanan dengan biaya dari tulisan yang dibuatnya. ia sampai di Gunung ciremai tempat ia bertemu dengan pak Tatang dan menerima tawaran menjadi relawan. Pak Tatang menyuruh Bara untuk beristirahat dan kembali ke Bandung dan Bara pun menuruti omongan dari pak Tatang.
Sudah berkali kali Bara dipanggil Pak Tatang untuk menambah pertolongan hingga saat ada empat Mahasiswa yang salah satunya bernama Lia tersesat di Gunung Ciremai. Bara yang saat itu juga membantu mencari empat Mahasiswa itu dimintai mohon kepada Ayah Lia agar membawa putrinya kembali. dikasihkannya sebuah foto Lia yang manis dari Ayah Lia Bara meerimanya. Berjam jam Tim mencari termasuk Bara, akhirnya pada ketinggian 1500mdpl Bara melihat ada terpal biru tertiup angin sentaknya ia langsung menghampiri. ternyata betul empat Mahasiswa itu ada disini. Bara mengamati Lia yang diberinya ia amanah dari Ayahnya untuk membawa kembali keselamatan Lia. Bara memberinya jaket kepada Lia karena hanya dia yang bajunya basah.
Setelah itu Bara kembali ke Bandung ia lupa mengembalikan foto Lia kepada Ayahnya. Wilis sahabatnya menemukan foto itu di meja Bara. Wilis juga punya rencana untuk mempertemukan Lia dan Bara. memang sahabatnya itu tau soal Bara. Lagi lagi Bara harus berurusan dengan cinta, tidak lama dari pertemuan Lia dan Bara. Bara mengajak Lia pergi ke Sukabumi untuk melihat lomba rafting. hingga pada saat itu Lia mendapat telepon bahwa ayahnya meninngal, lalu Bara dan semua cepat cepat kembali ke Bandung.
Seminggu berlalu Bara yang tidak bisa menghubungi Lia memilih mengunjungi langsung kerumahnya. bukannya bertemu Lia malah Bara mengobrol dengan ibunya Lia. Ibunya berkata bahwa Bara memang menyukai Lia tapi sejak ayahnya meninggal Lia dijodohkan dengan anak dari rekan ayahnya. Hati Bara membludak dan diam seribu bahasa setelah mendengar itu. Seminggu sejak pertemuan dengan ibunya Lia, Bara tak hilang tanpa kabar tiba tiba Bara menyuruh Wilis untuk datang ke kosannya sendiri. Bara menceritakan semuanya tentang Lia dan ia bilang ingin pergi menemui bapaknya dan meminta diantar ke pemakaman Kirana dulu lalu ke cicaheum. Saat di pemakaman Bara berpamitan dengan makam Kirana, tapi Wilis menghubungi Lia agar Lia bisa datang dan menemui Bara di terminal Cicaheum dengan minta sengaja bertemu Bara disana. mobil yaang ditumpagi Bara dan Wilis menuju ke terminal sesampainya mereka berdua saling berpamitan setelah itu Bara menunggu duduk, dan Lia yang berpura pura tidak sengaja itu juga ikut duduk disamping Bara. pertemuaan itu membuat Bara kalut.
Bara yang sendirian di pos pengawasan gunung Ciremai diajak mengobrol Pak Tatang. Bara menanyakan diketinggian berapa keempat Mahasiswa yang dulu hilang di Gunung ini yang dicari oleh relawan termasuk pak Tatang dan Bara. Pak Tatang menjawab 1500mdpl mungkin. Pak Tatang yang selalu memberi semangat kepada Bara itu pun pergi turun hingga Pak Tatang kembali dan mencari Bara ternyata ia sudah pergi beserta tasnya. Pak Tatang khawatir karena tidak biasanya Bara bersikap seperti itu. Pak Tatang menghubungi Wilis menanyai dimana Bara ternyata Wilis juga tidak tau. Wilis beserta temannya langsung menuju kaki Gunung Ciremai untuk menemui Pak Tatang dan bermaksud mencari Bara yang hilang. Pak Tatang yang sudah membagi kelompok untuk pergi ke lapas tempat dimana bapak Bara ditahan ada juga yang disuruh berjaga di pos. ada juga kelompok Pak Tatang yang menyusuri Gunung dan menemukan Bara. Saat Pak Tatang memerintahkan Maman untuk menghentikan mobil, tiba tiba masuk kabar dari pos bahwa satu grup pendaki yang turun menemukan sebuah tennda dan seorang lelaki tergeletak di dalamnya. Mereka yang berada disekitar tenda diketinggian 1500mdpl, tempat yang sama saat empat Mahasiswa itu hilang. Wilis termangu melihat sesosok lelaki tampak tergeletak tak bergerak, tubuhnya kaku tangannya sedang memegang buku yang tak salah entah itu pesannya atau diarynya. langsung saja jenazah Bara langsung dibawa trurun. Pihak rumah sakit menyerahkan jenazah kepada Pak Tatang yang mengaku sebagai pihak keluarga. Jenazah Bara di bawa ke Bandung untuk dimakamkan bersebelahan dengan makam Kirana. Di antara keramaian pelayat, terlihat wajah Lia menangis bersedu sedu dalam pelukan ibunya. Semua yang hadir sama sama merasa kehilangan Bara. Semua pelayat pergi kecuali Wilis Pak Tatang dan teman teman dekat Bara. Wilis membacakan buku yang dipegang Bara saat itu "kayak semacam buku catatan harian. atau surat yang ditulis. sepertinya ia tujukan entah kepada siapa." Surat dalam bentuk buku harian itu berisi kisah kisah berat Bara. Angin berkesiur pelan. beberapa daun gugur dan jatuh di atas makam Bara, yang sudah penuh dengan taburan bunga bunga.
Komentar
Posting Komentar